proses pembuatan kain tapis
Proses pembuatan kain tapis
Kain Tapis biasanya dibuat oleh wanita, baik ibu rumah tangga maupun gadis-gadis (muli-muli)
ketika waktu senggang. Pembuatan kain ini bertujuan untuk memenuhi
tuntutan adat istiadat yang dianggap sakral. Saat ini, pembuatan Kain
Tapis dibuat oleh penenenun profesional di rumah-rumah produksi tenun,
dan digunakan untuk memenuhi permintaan pasar.
Tahap paling awal pembuatan Kain Tapis adalah pemintalan kapas (khambak)
menjadi benang katun, dan pemintalan kepompong ulat sutera menjadi
benang emas. Kemudian benang-benang tersebut diawetkan dengan cara
direndam dalam air yang dicampur dengan akar serai wangi. Setelah proses
pengawetan selesai, tahap selanjutnya adalah proses pewarnaan benang
dengan menggunakan bahan-bahan alami. Untuk mendapatkan benang berwarna
coklat misalnya, benang katun direndam dalam air yang dicampur dengan
serbuk kulit kayu mahoni atau kalit kayu durian. Setelah warna benang
sesuai dengan warna yang diinginkan, maka benang direndam dalam air yang
dicampur daun sirih. Perendaman ini bertujuan agar warna benang tidak
mudah luntur.
Setelah benang yang dibutuhkan siap, maka tahap selanjutnya adalah
merajut benang menjadi kain. Setelah kain terbentuk, maka tahapan
selanjutnya adalah membuat motif-motif, seperti motif alam, flora, dan
fauna, dengan menggunakan benang-benang berwarna. Selanjutnya motif
tersebut disulam (sistim cucuk) dengan benang emas dan benang
perak. Setelah disulan dengan benang emas dan perak, maka selembar Kain
Tapis sudah selesai dibuat.
Proses menyulam Kain Tapis
Saat ini, bahan-bahan untuk
membuat Kain Tapis telah banyak tersedia di pasaran. Oleh karena itu
para pengrajin Kain Tapis tidak perlu lagi melakukan pemintalan dan
pewarnaan benang sendiri. Demikian juga dengan pembuatan Kain Tapis,
jika pada awalnya oleh kaum ibu dan para gadis diwaktu senggang, maka
saat ini dilakukan oleh penenun profesional di rumah-rumah produksi
tenun.
Untuk membuat Kain Tapis Inuh
misalnya, seorang penenun membutuhkan tiga hingga empat benang yang
telah diberi warna, yakni kuning, hitam, hijau, dan merah. Warna-warna
benang tersebut harus dibuat redup (tidak cerah) agar mirip dengan warna
asli Kain Tapis Inuh tempo dulu. Benang yang telah diwarnai tersebut
kemudian ditenun secara kasar, lalu diberi motif sablon untuk memandu
tenunan. Tenunan kasar itu lantas diurai hingga hanya meninggalkan motif
yang diinginkan. Selanjutnya, benang yang diberi warna disisipkan
membentuk motif warna. Setelah itu, kain hasil tenunan dipres dengan
mesin agar halus dan ikatan tenunannya kuat. Selanjutnya disulam dengan
sistim cucuk denganmenggunakan benang emas dan perak. Penyulaman merupakan proses terakhir pembuatan Kain Tapis
Komentar
Posting Komentar